Prawoto Menuju Desa Wisata Religi

LINTASPATI.ISKNEWS.COM, Lintas Pati - Prawoto adalah sebuah desa dengan jumlah penduduk sekitar 11.764 jiwa yang letaknya berbatasan dengan Grobogan di Selatan, Kudus di Barat dan Utara. Keberadaan desa ini memiliki cerita yang sangat panjang, ditengarai lebih tua dari kerajaan Majapahit.

Desa Prawoto yang jaraknya sekitar 37 kilometer dari pusat kota Pati, memiliki keunikan tersendiri selain Balai Desa kuno, yang lengkap dengan dua pohon beringin besar di bagian depan, juga terdapat Masjid serta bekas Alun-alun. Terakhir Pemerintah Desa (Pemdes) Prawoto kembali membangun Alun-alun tersebut.

Desa dengan 14 pedukuhan ini, dipercaya masyarakatnya hingga sekarang, sebagai pusat pemerintahan Kerajaan Islam ke empat di Pulau Jawa, dan kebetulan, pada saat itu dipimpin oleh Sunan Prawoto. Bahkan, masyarakat pun mempercayai Sunan Prawoto meninggal dan dimakamkan di desa Prawoto.

Tidak heran jika di desa yang keberadaannya disebutkan dalam sejumlah literature tua ini, juga terdapat banyak makam para wali pengikut Sunan Prawoto.

Selain itu, desa Prawoto tidaklah asing dengan sejarah Walisongo dan kerajaan Demak. Konon katanya, untuk mendirikan Masjid Agung Demak para Walisongo menggelar rapat di Masjid Kauman Desa Prawoto. Masjid tersebut masih ada hingga sekarang dan terdaftar sebagai benda cagar budaya.


Makam Sunan Prawoto sudah menjadi tempat tujuan wisata religi di Pati bagian Selatan. Tidak hanya makam, namun masih ada destinasi lain yang dijadikan tempat tujuan wisata religi, yaitu Masjid Kauman atau lebih dikenal dengan sebutan Masjid Wali, serta makam Tabek Prawoto.

Selain tiga destinasi wisata religi tersebut, masyarakat di seputar Jawa tengah, bahkan luar provinsi, tidak melewatkan acara prosesi adat kirab budaya Lurup dan Ikan Lengkur Sunan Prawoto, yang selalu diperingati pada tanggal 17 Rajab.

Dalam perayaan tersebut para Pengageng dari Keraton Surakarta Hadiningrat pun menyempatkan untuk hadir. Bahkan, sempat ada wisatawan dari mancanegara yang datang dalam prosesi kirab budaya Raden Mukmin itu.

Melihat potensi yang demikian besar, tidaklah muluk jika Pemerintah Desa Prawoto berkeinginan menjadikan desanya sebagai desa Wisata Religi.

“Untuk menuju dan mengembangkan desa kami sebagai desa Wisata Religi, kami selalu memberikan sosialisasi kepada masyarakat terkait kesiapan ke arah itu,” ujar Ahmad Hyro Fachrus, Kepala Desa Prawoto.

Ditambahkan, upacara kegiatan ritual yang terkait dengan khoul para wali yang ada di desa Prawoto mulai dikemas dengan rapi. Selain itu, peranserta masyarakat terkait dengan perilaku penyambutan tamu terus diupayakan, agar lebih terbuka dan lebih ramah, sehingga para tamu yang datang berwisata di Desa Prawoto akan selalu nyaman.

“Jika para wisatawan merasa nyaman, kami yakin mereka akan datang kembali ke Desa Prawoto,” terang Hyro.

Selain itu, pembangunan infrastruktur yang mendukung Prawoto sebagai desa wisata religi pun sudah mulai bangun dan dilengkapi, dengan harapan akan memberikan ruang dan tempat yang representatif bagi para wisatawan yang datang.

Sepertinya keinginan pemerintah desa dan masyarakat Prawoto untuk menjadikan desanya sebagai destinasi wisata religi sangatlah tepat. Mengingat, kultur agamis masyarakatnya yang sangat mendukung.

Selain menawarkan wisata religi, desa yang pernah dijadikan benteng perlindungan Adipati Pragola Pati ke-2, raja terakhir Pati, ketika melarikan diri dari kejaran prajurit Mataram yang menang pada tahun 1627 tersebut, juga memiliki pemandangan dan lokasi wisata alam yang sangat indah yaitu, Sendang Jibing, sendang Widodaren dan sendang Tujuh. Dimana masing-masing sendang atau pemandian tersebut, memiliki kisah atau mitos tersendiri yang berkembang dan diyakini masyarakat sekitar hingga sekarang.

Namun sangat disayangkan, hingga saat ini keinginan dan harapan masyarakat belum sepenuhnya mendapat sambutan dari Pemerintah Kabupaten Pati. Padahal sangat diharapkan peran serta pemerintah kabupaten dalam mewujudkan Prawoto sebagai Desa Wisata Religi.

“Dukungan dari pemerintah kabupaten, selain bantuan pelaksanaan kirab lurub khoul, belum ada bantuan serta perhatian yang penuh terhadap pengembangan destinasi wisata di desa Prawoto,” pungkas Hyro. (IN/AM)

No comments

Powered by Blogger.