Andayani Sukses Berkarir Dengan Ikhlas dan Menjaga Amanah

LINTASPATI.ISKNEWS.COM, Lintas Pati - Menjaga kepercayaan keluarga dan masyarakat dalam mengemban sebuah tanggung jawab, sepertinya menjadi salah satu modal utama untuk menuju keberhasilan yang bermanfaat bagi banyak orang. Selain itu keikhlasan perlu diutamakan, sehingga apa yang dilakukan menjadi lebih menyenangkan. Setidaknya kredo itulah yang diterapkan Andayani (41) dalam memulai karirnya.

Bermula dari seorang penjual kerupuk keliling, Andayani mencoba mencukupi kebutuhan hidup keluarganya. Sebagai keluarga muda pada saat itu, pekerjaan apa pun dia lakukan demi kelangsungan hidup. Dengan mengayuh sepeda dan menggendong anaknya yang masih balita, Anda, demikian sapaan akrabnya, berkeliling menjajakan kerupuk. Hampir separuh wilayah Kecamatan Sukolilo, Pati, dia kelilingi agar jualannya laku.

Berapapun hasil keuntungan yang dia peroleh hari itu selalu dia syukuri. Baginya, kebutuhan hidup pada hari itu bisa terpenuhi sudah cukup menggembirakan. Meski orangtuanya adalah seorang perangkat desa, namun dia tidak pernah mau menggantungkan hidup dari keluarganya.

“Kalau sudah berkeluarga ya harus mampu mencukupi kebutuhannya sendiri. Jangan menggantungkan pada orangtua,” ujarnya.

Selain berjualan kerupuk, pada waktu selanya perempuan berperawakan mungil ini, juga menawarkan jasa sebagai tukang jahit keliling. Dengan berbekal keahlian menjahit yang diperoleh semasa sekolah dulu, Andayani menerima jahitan di rumahnya. Tidak jarang pula dia berkeliling ke tetangga sekitar. Meski hanya sekedar menjahit pakaian yang sobek atau memasang kancing baju.

Segala sesuatu yang dilakukan dengan ikhlas dan hasilnya disyukuri, ujar Andayani, pasti tidak akan menyakitkan bahkan menumbuhkan kebanggaan dan kegembiraan tersendiri. Pada saat itu merupakan masa-masa sulit dalam kehidupan keluarga muda ini.


Bagaimana tidak, untuk kebutuhan sehari-hari saja, masih belum menentu. Dengan dianugerahi satu anak laki-laki, sangatlah tidak mungkin menggantungkan penghasilan suaminya yang bekerja sebagai tenaga honorer di salah sebuah instansi pemerintah.

Pernah pada suatu hari, kenang Andayani, ketika menjajakan kerupuk dengan sepeda, sambil menggendong anak pertamanya yang masih kecil, entah karena jalan licin, tiba-tiba dia terjatuh bersama.

“Anak saya ikut terjatuh dan menimpa kerupuk hingga remuk,” sambil tertawa dia menceritakan kejadian itu.

Kondisi ekonomi keluarga seperti itulah yang akhirnya menjadikan semangat Andayani, untuk lebih tekun dan kuat menjalani segala usahanya.

Roda kehidupan terus berputar. Ibu dari Niko, Alvito dan Alya ini mencoba memulai usaha kolam Lele yang menurutnya lebih menjanjikan.

“Mungkin belum rezeki keluarga saya, usaha lele yang mempekerjakan pemuda yang tadinya pengangguran akhirnya gulung tikar,” kenang Andayani.

Hal itu tidak menjadikan perempuan kelahiran Sukolilo, Pati ini patah arang. Ada niatan untuk kembali membuka usaha lain. Usaha yang dia dirikan harus mampu menampung orang-orang yang benar-benar membutuhkan pekerjaan.

Berbagai usaha silih berganti menemui kegagalan. Hingga pada suatu hari, sebuah ide muncul yaitu membuat rumah makan. Prosesnya sangat lama, tidak jarang Andayani dan Sumito suaminya meluangkan waktu untuk berkeliling, dan mampir dari satu rumah makan ke rumah makan lain di sekitar Kabupaten Pati.

“Usaha ini merupakan hal baru bagi kami. Sehingga perlu mempelajari lebih dalam dari mereka yang sudah berpengalaman,” terang Sumito.

Akhirnya dengan keberanian dan keyakinan, mulailah pasangan ini mencari lokasi untuk mewujudkan usahanya. Dengan bantuan saudara dan teman-teman dekat, terwujudlah rumah makan yang mengedepankan menu khas Kecamatan Sukolilo, yaitu olahan ikan Kutuk (Gabus).

Bagi Andayani, warung makan yang dia dirikan tidak semata-mata tempat kuliner, namun lebih dari itu sebagai tempat usaha yang sarat dengan kegiatan sosial. Mulai dari perekrutan karyawan, dia lebih mendahulukan para perempuan yang kesulitan tingkat ekonominya, meskipun tidak berpengalaman.

Selain itu, setiap Kamis malam, dia menyisihkan waktu untuk berkeliling membagi nasi bungkus bagi orang dengan disabilitas mental, yang banyak dijumpai di Pati.

Ada cerita lain mengapa dia memilih orang dengan disabilitas mental. Didasari pemikiran yang sangat sederhana, menurutnya jika gelandangan atau pengemis sudah banyak yang memperhatikan dan bisa dikatakan sering mendapat santunan.

“Kalau orang dengan gangguan jiwa siapa yang memperhatikan? Mereka lebih sering tidak makan, untuk makan biasanya harus mengais tong sampah, kan kasihan. Mereka juga manusia,” terangnya.

Meski tidak memiliki keahlian memasak di atas rata-rata, serta baru pertama membuka usaha rumah makan, sepertinya bidang usaha inilah yang mampu bertahan hingga saat ini. Andayani sadar, jika usaha atau pekerjaan diawali dengan niatan menolong dan menjaga kepercayaan niscaya akan mendapatkan jalan dan menuai keberhasilan yang diridloi Allah.

Hingga hampir empat tahun ini, rumah makan yang langsung ditanganinya itu sudah dikenal masyarakat. Bahkan sejumlah kantor pun menjadi pelanggan setiap ada kegiatan.

Apa yang dilakukan Andayani mampu membuktikan, jika keuletan dan semangat pantang menyerah dalam memulai sebuah usaha, pasti akan membuahkan hasil yang menggembirakan, bisa menjadi contoh nyata bagi kita.

Andayani adalah salah satu dari sekian perempuan di negeri ini yang mempunyai keuletan dalam memulai usaha dengan penuh rasa percaya diri, dan tidak mudah menyerah ketika harus kalah. (IN/AM)

No comments

Powered by Blogger.