Tolak Kepala Sekolah Baru, Bantah Isu SARA

LINTASPATI.ISKNEWS.COM, Lintas Pati – Setelah siswa SD Penggung 1, Kecamatan Dukuhseti, Pati, melakukan aksi mogok sekolah, menyusul hal serupa dilakukan siswa SD Wedusan, di kecamatan yang sama. Alasannya, para wali murid menolak Kepala Sekolah (Kepsek) baru. Namun, dibalik penolakan tersebut, berhembus isu SARA yang melatarbelakangi.

Kepala Desa Wedusan, Ali Mastur saat dikonfirmasi membantah isu tersebut. Dia menegaskan, penolakan kebijakan mutasi tidak didasari sentimen agama. Menurutnya, hal itu murni keinginan warganya yang trauma terhadap perilaku kepsek baru.

"Salah jika dikira penolakan didasari perbedaan agama. Hal ini murni karena sikap kepsek baru yang dianggap kurang baik oleh warga. Belasan tahun lalu, yang bersangkutan juga pernah menjadi guru di SD Wedusan. Saat itu, dia memang dikenal arogan," jelasnya.

Sepertinya, lanjut Ali, wali murid masih trauma atas perilaku kepala sekolah baru, yang pada saat menjadi guru di SD Wedusan dinilai memiliki tabiat yang tidak bagus. Berdasar pengalaman itulah, mayoritas wali murid menjadi trauma.


"Sikap kurang baik itulah, yang mungkin masih membekas dan akhirnya mereka menolak jika dia menjadi kepala SD Wedusan. Bahkan, mereka mengancam akan memindahkan anaknya ke sekolah lain jika kebijakan tersebut tetap dipaksakan," tambahnya.

Menurut penuturan salah seorang guru SD Wedusan, Sukarlah, aksi mogok ini sudah berlangsung sepekan. Bahkan ruang kelas sempat kosong tanpa kehadiran siswa pada dua hari awal aksi berlangsung.

Terkait penolakan tersebut, Kepala Bidang Guru dan Tenaga Kependidikan pada Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Pati, Ahmadi, saat dikonfirmasi berharap agar permasalahan tersebut dapat diselesaikan dengan kepala dingin. Semua pihak diharapkan lebih mengutamakan proses Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) agar pendidikan anak tidak terganggu.

“Biarkan kepala sekolah melakukan tugasnya terlebih dahulu. Nanti kita lihat kalau satu dua bulan jelek, pasti akan ada tindakan dan evaluasi. Kalau ada persoalan dikaji, bisa ditinjau ulang yang penting anak jangan sampai tidak sekolah,” terangnya.

Hingga hari ini, Kamis (25-01-2018) wali murid masih menjalankan aksi penolakan. mereka melarang anaknya mengikuti KBM di sekolah. Dari total 109 murid, tercatat hanya 37 siswa yang masuk sekolah. (IN/AM)

No comments

Powered by Blogger.