Mengintip Seni Melukis Rokok Di Pesisir Utara Jawa

LINTASPATI.ISKNEWS.COM, Lintas Pati - Seni melukis tak hanya terbatas pada media untuk menuangkan kreativitas pelukisnya. Saat ini, tak cuma diatas kanvas yang belakangan dijadikan media untuk melukis dengan ampas kopi. Rokok juga bisa dijadikan media lukis yang ternyata telah ada sejak bertahun-tahun lalu. Kegiatan ini lebih populer dengan istilah Cethe.

Guna memberikan ajang bagi penikmat kopi yang juga suka Nyethe, sekelompok anak muda yang menamakan dirinya Komunitas Kawan Ngopi (KKN) Desa/Kecamatan Dukuhseti menggelar Festival Nyethe, pada Minggu (14/01/2018) kemarin.

Acara ini selain sebagai media untuk mempererat silaturahim antar penikmat kopi, namun lebih dari itu, festival ini diharapkan mampu mengubah pandangan negatif, terhadap mereka yang suka nongkrong di warung kopi.

"Kiami menyadari bahwa pandangan terhadap kita yang suka kongkow-kongkow di warung kopi, terutama kawula muda tak lepas dari pandangan negatif dari masyarakat. Padahal saat ngopi sambil ngobrol, sebagian dari mereka juga ada yang mempunyai bakat melukis,” ungkap Ketua Panitia Festival Nyethe Dukuhseti, Miftahul Huda.

Dan itu, lanjut dia, dituangkan dalam sebatang rokok. Untuk itulah pihaknya mencoba menjawab kesan buruk tersebut dengan festival ini. Bahwa tak selamanya nongkrong di warung itu tak bermanfaat.



Pemuda yang akrab disapa Miftah tersebut mengaku, cethe bukanlah kegiatan yang baru dicetuskan begitu saja. Kegiatan ini sudah melekat di masyarakat khususnya mereka yang gemar menikmati kopi dan rokok.

Tidak diketahui secara pasti siapa yang pertama kali menemukan atau menciptakan kegiatan nyethe ini, yang jelas dari dulu hingga sekarang masih banyak orang yang melakukannya.

"Nyethe ternyata dilakukan dengan beberapa motivasi. Ada yang melukis rokoknya karena memang menginginkan aroma kopi yang harum pada saat rokok dihisap. Ada yang memang gemar dengan yang namanya seni sehingga rela menghabiskan waktu untuk melukis rokok dengan kopi. Tapi apapun motivasinya semuanya tetap berpulang pada kenikmatan aroma kopi yang keluar bersama rokok," bebernya.

Dalam lomba kali ini, panitia menerapkan beberapa kriteria dalam penilaian. Selain keindahan lukisan, pemenang lomba cethe akan ditentukan oleh kerapian dalam menggoreskan ampas kopi diatas sebatang rokok.

Tak hanya diikuti peserta dari Dukuhseti, sejumlah peserta dari luar Pati pun turut meramaikan festival yang baru digelar perdana di salah satu wilayah pesisir Utara Jawa ini. "Puluhan peserta turut datang. Diantaranya dari Dukuhseti dan sekitarnya. Ada juga yang dari luar kabupaten, diantaranya Rembang, Kudus hingga dari Blora," jelas Miftah.

Sementara itu, Denik Setiawan, peserta yang berasal dari Todanan, Blora mengaku, tertarik mengikuti lomba nyethe lantaran diajak teman-temannya. Karena selama ini, ia hanya melakukan nyethe saat nongkrong di warung kopi. "Lebih tertantang saja bagaimana rasanya jika nyethe sambil lomba. Tapi yang terpenting dapat menambah kawan," tuturnya sambil asyik menorehkan ampas kopi pada sebatang rokok.

Menurutnya, tidak ada syarat khusus kopi apa atau rokok apa yang bisa dipakai untuk nyethe. Semua jenis rokok bisa menjadi media nyethe baik itu kretek ataupun filter. Begitu juga untuk jenis kopinya. Semua kopi bisa dijadikan alat lukis cethe karena yang diperlukan adalah ampas kopinya saja.

"Jadi jika kita minum kopi tubruk yang berampas apapun jenis kopinya baik arabika ataupun robusta, ampas kopinya bisa dijadikan alat untuk melukis rokok," imbuhnya.

Namun dikatakan, tidak hanya ampas kopi saja bahan yang diperlukan untuk membuat tinta kopi untuk melukis rokok ini. Diperlukan susu kental manis sebagai adonannya. Cara membuatnya adalah ambil sisa ampas kopi dan letakkan tisu di atasnnya hingga air pada ampas meresap.

"Setelah itu campurkan dengan susu kental manis agar adonannya bisa dipakai melukis. Aduk rata dan siap untuk dipakai. Kami bisa membuat beragam motif di atas rokok. Mulai dari batik hingga motif-motif seperti nama hingga gambar manusia. Tergantung kreativitas masing-masing," jelas mahasiswa salah satu perguruan tinggi swasta di Pati itu.

Diakhir percakapan, ia menutup, untuk membuat motif bunga pada sebatang rokok diperlukan waktu 10-15 menit. Kerumitan dalam melukis juga dipengaruhi kondisi seseorang. "Perlu ketenangan dalam nyethe. Kalau lagi tidak mood juga malas untuk nyethe. Meski hasilnya bukanlah lukisan yang indah, melainkan tumpukan ampas kopi yang berfungsi untuk mengeluarkan aroma khas pada saat menikmati rokok,” tandasnya.

No comments

Powered by Blogger.